Senin, 09 Maret 2009

Fenomena Perlu Dikaji secara Komprehensif


JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah diminta melakukan kajian secara komprehensif terkait fenomena gunung lumpur (mud vulcano) yang terdapat di sejumlah wilayah di Indonesia. Bila sudah memiliki data-data yang lengkap terkait hal ini, maka perencanaan pembangunan infrastruktur bisa dilakukan secara hati-hati dan disesuaikan dengan struktur alam. "Fenomena gunung lumpur jangan dianggap enteng. Pemerintah mesti melakukan kajian secara detil dan konprehensif," kata pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Sukendar Asikin, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, dengan memiliki data karakteristik mud vulcano secara lengkap, memungkinkan dilakukan pencegahan terjadinya bencana semburan lumpur dari bawah tanah. "Sayangnya saat ini para geolog Indonesia masih meraba-raba tentang fenomena gunung lumpur berdasarkan sejarahnya. Padahal ini juga ada di berbagai belahan bumi. Amerika Serikat yang juga memiliki konsentrasi gunung lumpur saat ini memiliki sistem pencegahan dan penanggulangan semburan agar fenomena alam tersebut tidak berubah menjadi bencana yang merugikan," ucapnya.

Sukendar mengatakan, sejumlah wilayah yang memiliki potensi gunung lumpur antara lain seluruh wilayah di Jawa Timur, Sangiran (Solo), Bangkalan (Madura), Mataloko (Flores), dan Purwodadi (Jawa Tengah). Wilayah Jatim memang merupakan daerah yang memiliki konsentrasi gunung lumpur cukup besar dan karenanya terdapat pula potensi cekungan hidrokarbon. Selain di Porong, Sidoarjo, wilayah Jatim lainnya yang pernah menyembur lumpur adalah Gunung Anyar yang berjarak 30 km dari lokasi lumpur Porong. "Bahkan Bandara Juanda pun dibangun di atas area mud vulcano yang sudah mati. Saya juga baru tahu soal itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, lumpur dengan intensitas kecil sudah biasa dan lama muncul di rumah-rumah penduduk di wilayah Jateng dan Jatim. "Kalau menilik sejarahnya, maka kejadian mud vulcano di Porong sudah pernah terjadi di masa lalu dan menyebabkan runtuhnya Kerajaan Kediri," tutur Sukendar.

Menurut dia, semburan lumpur tersebut disebabkan beban yang besar, seperti pembangunan kota menekan permukaan di atasnya. Ini ditambah faktor pergerakan tektonik bumi yang membuat lumpur tertekan dan menjadi keluar dari perut bumi. Jadi, fenomena alam di Sidoarjo merupakan gejala alamiah dan bukan akibat aktivitas underground blow out.

Sumber : Suara Karya, 10 Maret 2009


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar